jump to navigation

Sains Itu (Bukan) Sihir September 9, 2021

Posted by Joko Priyono in Cerita Buku.
Tags: , ,
add a comment

Saat menapaki jenjang pendidikan dasar, kita mafhum akan diajak berpetualang oleh para pengajar—melakukan pengamatan maupun membuktikan contoh pengaplikasian dari sebuah teori dengan melakukan percobaan. Lambat laun, kita diajak berpikir lebih mendalam atas aktivitas tersebut dan kemudian menjadi  sebuah labirin pengalaman tak terlupakan. Bahkan, kita  pada banyak kesempatan akan terngiang-ngiang, dengan sendirinya pikiran kita bergerak dengan ragam imajinasi dan terbesit pertanyaan demi pertanyaan sebagai bagian dari rasa penasaran. Kita memiliki rasa ingin tahu dengan penasaran demi penasaran dalam perjalanan hidup ini.

Kepingan demi kepingan tulisan dari Dreifus tentu menarik dan berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Kita bisa memahami alur waktu dan perkembangan secara luas atas apa yang terjadi di dalam ilmu pengetahuan. Dreifus menghadirkan hasil wawancara dan interaksi dengan sederet nama ilmuwan dengan berbagai latar belakang spesifikasi keilmuan. Dialog yang hadir tentu saja menawarkan pengalaman baru bagi para pembaca dalam menjumpai cerita baik dari sisi ketekunan sebagai ilmuwan, pengalaman pahit dalam penelitian, hingga komitmen diri memilih jalan sebagai saintis.

(lebih…)

Menalar (Kembali) PMII Januari 16, 2021

Posted by Joko Priyono in Esai.
Tags: , , ,
add a comment

Ada hal yang menarik saat Abdul Malik Haramain yang notabenenya merupakan Ketua Umum PB PMII periode 2003-2005 menuliskan buku dengan memulai dari judul berupa sebuah pertanyaan. Buku berjudulkan PMII di Simpang Jalan? yang terbit pada tahun 2000 tersebut—saat di mana pada waktu itu ia masih menjadi Wakil Sektretaris Jenderal PB PMII Periode 1997-2000. Tentunya sudah dapat ditebak akan apa yang kemudian melatarbelakangi dirinya mencurahkan gagasan demi gagasan dalam sebuah tulisan utuh yang menjadi buku tersebut. Pertama, tentu saja berangkat dari keresahan diri dalam melihat realitas yang dirasakan dalam PMII. Kedua, interaksi dengan Kader PMII dengan berbagai level struktural maupun jaringan yang ada.

Alasan pertama tentu saja erat kaitannya dengan fase perubahan rezim yang ada di dalam pemerintah. Di mana, pada tahun 1997-2000 dapat dikatakan berupa masa transisi yang mana setelah tiga puluh dua tahun Orde Baru berkuasa akhirnya lengser dan kemudian bertransformasi menuju Reformasi. Abdul Malik Haramain menggunakan frasa berupa hadirnya “angin segar” bagi PMII. Itu terkait mengenai posisi Gus Dur—salah satu sosok “Bapak Intelektual” bagi PMII—menjadi Presiden Republik Indonesia secara resmi mulai pada tanggal 20 Oktober 1999. Frasa itu kemudian diperkuat dengan hasil interaksi dari beberapa kader PMII yang pernah ditemuinya. Namun, frasa itu bukan tanpa konsekuensi kekhawatiran yang muncul. Sebagaimana yang dituliskan oleh Abdul Malik Haramain seperti berikut:

“Ada yang menarik ketika saya menghikuti Sumatera Informal Meeting (SIM) yang digagas oleh sahabat-sahabat PMII Lampung. Menariknya, ketika salah satu peserta dari salah satu cabang mengatakan bahwa posisi PMII sekartang secara politis tidak lagi sepenuhnya marjinal, sebaliknya posisi politik PMII telah mendapatkan angin segar. Sontak saja, term politis ini seakan-akan menjadi tema menarik untuk didiskusikan.

“Fenomena “angin segar” di atas sangat menarik sekaligus mengkhawatirkan, pasalnya asumsi politis itu tidaklah keluar dari kondisi kosong. Pernyataan itu dilatarbelakangi oleh sebuah faktor, di mana secara politik-kekuasaan, posisi kaum Nahdliyin tidak lagi berada pada posisi pheripheral sepenuhnya. Naiknya Gus Dur ke puncak kekuasaan telah berpengaruh besar—meski tak sepenuhnya benar—terhadap kondisi NU secara langsung, dan juga keberadaan PMII secara tidak langsung.”[1]

(lebih…)

Transformasi Keempat PMII Desember 27, 2020

Posted by Joko Priyono in Esai.
Tags: , ,
add a comment

“Kesarjanaan menurut Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia penguasaan mata ilmu apa saja yang mempunyai faedah nyata bagi peradaban dan kemanusiaan, baik mata ilmu agama, eksakta dan sosial ekonomi. Kesarjanaan itu belumlah dengan sendirinya merupakan nilai yang selesai, bilamana tidak disertai dengan tindakan-tindakan nyata bagi kepentingan kemajuan rakyat banyak sebagai pengabdian yang tak henti-hentinya pada masyarakat. Oleh karenanya Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia menolak keras prinsip ilmu untuk ilmu, dan dengan sendirinya menolak ilmu yang merusak kesejahteraan rohani dan memerosotkan tingkat kehidupan karena menyimpang dari lingkaran tujuan hakiki dari Sosialisme Indonesia yang berasaskan Ketuahanan Yang Maha Esa, Persatuan Indonesia, Perikemanusiaan yang adil dan beradab, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, dan Keadilan bagi seluruh Rakyat Indonesia.”

(Deklarasi Tawangmangu, Tentang Pendidikan Nasional No. 3)

Salah satu peristiwa bersejarah yang dilalui oleh Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) adalah tatkala dihelatnya Kongres Pertama yang diselenggarakan di Kecamatan Tawangmangu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah (34 KM dari Kota Surakarta). Kegiatan yang dilaksanakan pada 23-26 Desember 1961 tersebut secara data kepesertaan cabang, baru tiga belas cabang PMII yang ada di seluruh Indonesia. Masing-masing adalah: Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Bandung, Jakarta, Ciputat, Malang, Makassar, Surabaya, Banjarmasin, Padang, Banda Aceh, dan Cirebon. Dalam perhelatan Kongres tersebut salah satu keputusannya berupa terpilihnya kembali Mahbub Djunaidi menjadi ketua untuk periode 1961-1963.

(lebih…)

Sumpah Pemuda, Bahasa, dan Sains Oktober 28, 2020

Posted by Joko Priyono in Esai.
Tags: , , ,
add a comment

Kongres Pemuda kedua yang dihelat pada 27-28 Oktober 1928 menghasilkan kesepakatan, salah satunya berupa: menjadikan bahasa Indonesia sebagai bahasa yang mempersatukan seluruh bangsa Indonesia. Hal itu penting, mengingat heterogenitas yang ada dalam bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku dan bahasa yang ada di setiap daerah. Bahasa Indonesia kemudian menjadi kesepakatan bersama dalam upaya maupun sarana komunikasi di dalam kehidupan masyarakat. Namun, apakah sejatinya bahasa Indonesia sudah benar-benar dimaknai sebagai bahasa pemersatu dalam konteks kehidupan luas?

(lebih…)